Kisah pendirian Masjid AL FURQON - Navigasi info a -->
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kisah pendirian Masjid AL FURQON

Navigasi Info - Daerah Jua Jua sebelumnya bernama koerte sampai gunung liwat dan lebih tua lagi dahulnya nama daerah ini adalah Tanjung Kamiang, dan daerah ini termasuk daerah tertua di Morgesiwe Kayuagung, makam makam tuapun yang di keramatkan banyak sekali di daerah ini termasuk MAKAM WALIYULLAH yang pernah menuntut ilmu agama di makkah dan madinah selama tiga belas tahun bahkan pernah menjadi Imam di Masjidil Harom dan Masjid Nabawi yang juga mursyid THORIKOT IDRISIYYAH dan SYADZILIYYAH. Di jua jua dulu penduduknya bermukim di pinggir sungai komering kayuagung, konon agama islam sudah sangat lama ada dan menyebar di daerah Kayuagung, dan rata rata tempat ibadah dulunya di pinggir atas sungai. 

Kisah pendirian Masjid AL FURQON
Gambar Masjid AL FURQON


KH. Hasan Khatib, beliau ini adalah dalam silsilah nasab masih keturunan dari Diwe Sukumilung atau yang identik dengan Pangeran Sukemilung alias Raden Simbang Gumay dengan Putri Handak Buwok anak dari Setya Radja Diah yang mempunyai anak yg bernama Depati Punya Bumi Atau Indra Bumi mempunyai anak Depati Lanang, mempunyai anak Depati Bungkok, disebut Depati Bungkok karena mempunyai senjata yg Bungkok Atau Bengkok ( Kujang), dari Depati Bungkok yg makam kubur Depati Bungkuk terletak di keramat Tanjung Mayang Kayuagung mepunyai anak PURBAJAYA kuburnya ada di Kayuagung asli mempunyai anak Depati Rangge atau Rangga makam kuburnya ada di Sukadana Tuha atau sekarang menjadi desa Kijang Batu Ampar. 

DEPATI RANGGE ATAU RANGGA mempunyai anak bernama TUAN DJIMAT Selanjutnya Tuan Djimat mempunyai anak dua orang yang pertama bernama MINAK BATIN Dan yang kedua bernama SURA MENGGALA, selanjutnya MINAK BATIN mempunyai dua orang anak, SUTA JAYA dan TURAS DALAM. 

Adapun SUTAJAYA Punya Anak KEMAS AGUNG dan KEMAS AGUNG Punya Anak Haji ABDURAHMAN Makam Kuburnya di tanah Mekkah Saudi Arabia, mempunyai anak KH.Hasan Khatib. Menurut tutur lisan keluarga KH.Hasan Khatib ini beliau adalah salah satu murid dari KH ABDUL HAMID atau KIYAI MAROGAN yang terkenal dengan Thorikot SAMANIYYAH pendiri torikot ini adalah SYEH MUHAMMAD SAMAN ALMADANI WALI KUTUB, amalam zikir yg termasyhur Thorikot ini adalah LA ILAAHA ILLALLAHUL MALIKUL HAQQUL MUBIIN MUHAMMADUROSULULLAH SHODIQUL WAQDIL AMIIN. 

KH Hasan Khatib gelar Tanda Imam


Zikir di atas juga di tuliskan pada mimbar masjid Al Furqon oleh murid KH Hasan Kotib yaitu Haji IBRAHIM yang terkenal dengan julukan Serikat Abang Tuhe. Awal pertama sekali masjid Al Furqon Jua Jua berdiri di pinggir atas sungai Komering Kayuagung tepatnya di tangge raje yg sudah berganti sekarang, di situlah masjid yg pertama sebelum di bangun ke tempat Masjid AL FURQON Jua Jua sekarang berdiri, pendirian ini atas prakarsa dari KH.Hasan Khatib, arsitektur masjid AL FURQON mirip dengan Masjid Lawang Kidul Palembang, saat itu Masjid Al-Furqon, oleh masyarakat margesiwe Kayuagung di pakai untuk melakukan ibadah sholat Jum'at karena hanya Masjid Al-Furqon Jua Jua saja yg besar saat itu, sebelum adanya masjid Jamik AGUNG Sholihin yg sekarang ini. 

Pendirian masjid Al-Furqon jua jua tersebut yg di perakarsai oleh KH Hasan Khatib, berdiri di atas tanah yg diwakafkan oleh menantunya yaitu yg bernama H.Hasan Khatib muda anak dari cicit H.Munggah gelar Prabu Bangse Kramat, yg nantinya mengganti kan posisi mertuanya yaitu KH Hasan Khatib sebagai IMAM MASJID (Khatib). Dalam riwayat lain KH Hasan Khatib adalah seorang yang mumpuni dan dituakan pada jamanya yaitu sebagai PENGHULU atau pemimpin agama Morgesiwe Kayuagung, beliau juga memiliki karomah yang cukup banyak di antaranya pada waktu selesai pendirian masjid di situ di buatlah mimbar untuk Khotbah Jum'at dan Hari Raya Idul Fitri serta Idul Adha, disaat masjid selesai di bangun dan akan dilakukan Sholat jumat pertama sekali ada mimbar besar yang belum di letakan pada tempatnya pada saat itu jiwa gotong-royong masyarakat sangat kuat. 

Singkat cerita ketika KH Hasan khatib turun masjid untuk melakukan sholat tahajud sambil menuggu waktu subuh di lihatnya ada sosok mahluk tinggi besar menurut cerita jari tangan nya seperti pisang tanduk/ambon yg ternyata itu adalah Jin Muslim dan dengan izin Allah atas karomah yg di miliki beliau di perintahkan nya jin muslim itu untuk mengangkat dan memindahkan mimbar yg masih tergeletak di depan Masjid untuk di masukan kedalam Masjid dan di letakan di posisi paling depan untuk di gunakan sebagai tempat khatib untuk khotbah Jumat dan setelah waktu sholat subuh masuk, berdatangan para jamaah yang akan menunaikan sholat dan melihat mimbar besar untuk khotbah itu sudah terpasang pada tempatnya dan jamaah pun heran dan takjub bagaimana bisa KH Hasan Khatib dapat mengangkat serta memindahkan sendiri mimbar khotbah tersebut (sampai sekarang JIN MUSLIM tersebut masih ada), selain itu juga tongkat yg di gunakan saat Khotib Khotbah Jumat pun memiliki kemampuan atau mengandung karomah maunah atas izin ALLAH SWT untuk di gunakan masyakarat Jua Jua sebagai penolak hujan di saat adanya acara hajatan yasinan atau pun pesta (Sekiat Penulak Hujan/bahasa Kayuagung) adapun karomah yang di miliki beliau lainnya rumahnya yang tidak mempan di tembak atau di berondong peluru penjajah Belanda, yang pada saat itu ketika ingin menangkap KH Hasan Khatib, karena melihat rumahnya yg tidak mempan dihujani peluru maka penjajah Belanda menghentikan untuk menangkap beliau. 

Keesokan harinya hanya pagar rumah beliau yang roboh dilindas dengan mobil tank belanda sedangkan rumah beliau tidak tergores sedikitpun dan karomah beliau yg berikut nya adalah kebal senjata dan tidak terbakar oleh api atas izin ALLAH SWT.
 
ceritanya ketika terjadi kesalah pahaman antar keluarga, maka tiba tiba di bacoklah kepala KH Hasan Khotib dengan sebuah parang (canduong) atas izin Allah kepala beliau Tidak mengalami luka sedikitpun, hanya kopiahnya (peci) saja yg terbelah dan bukti peci tersebut tersimpan di rumah beliau. 

Selanjutnya beliau juga mendapatkan penghargaan bintang jasa dari pemerintah saat itu yaitu Hindia Belanda 2 buah bintang jasa voor trouw en verdienste klener zilversen ster dan bronzen ster pd tgl 22 Agustus 1933 dan pada tgl 27 Agustus 1940.

Demikianlah kisah riwayat dari KH Hasan Khatib gelar Tanda Imam, beliau wafat pada tahun 1949 dimakamkan di Kubah pemakaman keluarga yang di kenal dengan Jalan GUBAH/KUBAH Jua Jua darat