Melayu yang beragama Kristen Katolik di Sumatera - Navigasi info a -->
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Melayu yang beragama Kristen Katolik di Sumatera

Navigasi Info - Di Tanjung Sakti Pumi terdapat sebuah Gereja Tua yang bernama Gereja Katolik Santa Maria Imacullata yang didirikan pada 19 september 1887. Gereja tertua di sumatera selatan ini merupakan cikal bakal terbentuknya Keuskupan Agung Palembang.


Melayu yang beragama Katolik di Sumatera 


Di Sumatera terdapat dua sub etnis Melayu yang beragama Katolik, walau tak sampai 1% dari populasi sub suku tersebut, ianya adalah suku Melayu Pasemah (Besemah) di Lahat Provinsi Sumatera Selatan dan Melayu Serawai di Bengkulu Selatan Provinsi Bengkulu.

Etnis Melayu Pasemah (Besemah) tersebar di Provinsi Sumatera Selatan, Bengkulu dan sebahagian kecil Lampung. Suku pasemah memvokalkan bahasa melayu loghat E pepet khas Sumatera Selatan.

Di kecamatan Tanjung Sakti Pumi, Kabupaten Lahat, Sumsel tepatnya di sisi barat Gunung Dempo terdapat sekelompok warga melayu pasemah yang beragama katolik.


Melayu Kristen katolik???


NAMA-NAMA KHAS MELAYU DI PEMAKAMAN KATOLIK BATUPUTIH


 - بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيم - Bismillahirahmanirahim

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ - Salam sejahtera untuk semuanya

Berikut merupakan makam dari para warga Desa Batuputih, Kecamatan Baturaja Barat, Kabupaten Ogan Komering Ulu. Pada postingan sebelumnya telah disampaikan bahwa mayoritas warga di desa ini memeluk agama Katolik. Kemudian menarik kita amati nama-nama nisan yang tertera pada makam. Ternyata meskipun Katolik, nama-nama mereka (orang Batuputih) masih memakai nama-nama yang lazimnya dipakai orang-orang Melayu, namun ada penyematan nama katolik didepannya. Hal ini masih dipakai secara temurun hingga saat ini.

Dari nama saja sudah nampak jelas bahwa mereka adalah orang Melayu, tidak ada nama Surono (Jawa), Sitompul (Batak), Lie Bi Giok (Tionghoa), Pieterson (Belanda) dsb. Memang sangat unik, karena mayoritas/hampir semua orang Melayu adalah muslim, namun ternyata ada suatu desa yang penduduknya etnis Melayu (berkebudayaan Melayu) tetapi memiliki akidah yang berbeda.

Secara umum mereka tidak berbeda dengan penduduk Melayu Palembang (Ogan/Melayu Tengah) lainnya, menggunakan bahasa lokal yang sama, masih berseni tutur pantun & rejung, ngirup pindang & cuko (makanan juga sama), baju adat sama saja (bersongket, bertanjak & berbaju kurung), menggelar seni musik gitar tunggal juga, dari kecil mereka juga berlatih silat dan kuntau, jadi secara sosial budaya tak berbeda dengan Melayu Palembang lainnya, yang membedakan satu hal, yaitu iman/akidah.

Hebatnya mereka hidup berdampingan dan harmonis dengan penduduk yang beragama Islam. Saat ini di Desa Batuputih juga ada madrasah milik pemerintah dan juga masjid.

Inilah yang dinamakan Takkan Melayu Hilang di Bumi ! Telah teruji sejak dulu, meski orang Melayu pernah menganut keimanan yang berbeda-beda, diawali animisme di Besemah, Sriwijaya dengan landasan Buddha-nya, penganut Hindu-pun ramai, kemudian digantikan dengan era kegemilangan Islam menjadi agama mayoritas, dan ternyata ada pula sebagian kecil menganut nasrani, namun ternyata 'jatidiri melayu' tak hilang ditelan bumi.