MENELUSURI JEJAK SEJARAH MANUSKRIP KESULTANAN INDRAPURA DI PESISIR SELATAN-SUMATERA BARAT - Navigasi info a -->
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

MENELUSURI JEJAK SEJARAH MANUSKRIP KESULTANAN INDRAPURA DI PESISIR SELATAN-SUMATERA BARAT

Navigasi Info - EMRAL DJAMAL DATU RAJO MUDO Praktisi dan Pengamat Budaya Tradisi Disini penulis mencoba menguak misteri dan menjawab tanda Tanya tersebut dengan menulis tentang kerajaan Indrapura berdasarkan Manuskrip Kerajaan Usali Kesultanan Inderapura sebagai sumber sejarah yang nyata dan otentik.

Foto dok: Sultan Muda Inderapura Sutan Rusdal Inayatsyah saat menjalin kembali hubungan kekerabatan dengan Sultan Sepuh XIV dan Sultan Bulungan di Keraton Kasepuhan Cirebon.



Secara etimologis terdapat beberapa pendapat tentang asal usul nama indrapura. Indra berarti dewa, yakni dewa tertinggi Batara Indra atau Dewa Indra, Sri Maharaja Indra Dewa. Pura artinya tempat atau negeri. Jadi Indrapura adalah negeri tempat kedudukan Dewa Indra, Negeri Sri Maharaja Indra warman Dewa.

Pendapat lain mengatakan bahwa kosa kata indra berasal dari indra sejati, menjadi indrajati dan berubah bunyi menjadi Indojati, bermakna Raja Asli, Raja Sejati, sementara Pura berasal dari kata Puro artinya Uncang, atau kantong tempat batu-batu permatamilik raja. Dalam riwayatnya dikatakan puro raja tersebut jatuh kedalam air, hilang dan tidak ditemukan lagi, maka air tersebut dengan lokasi tempatnya disebut Air Puro yang akhirnya negeri tersebut kemudian berubah nama menjadi Indrapura yang lidah masyarakat Indrapura menyebutnya indopuro/Indopugho yang artinya puro raja atau puro dewa.

Apabila kita dari Padang, Lebih kurang 40 Km sebelum Lunang dalam kecamatan Pancung Soal Pesisir Selatan, lalu berbelok kekanan, lebih kurang 10 Km kedalamnya, disitulah letaksebuah nagari yang sekarang masih bernama indrapura. Diujungnya mengalir sebuah sungai yang pada zamannya memilki pelabuhan sendiri yang bernama Muara Sakai. Bila kita menghiliri sungai itu dari Muara Sakai Indrapura dengan menumpang sebuah perahu boat, lebih kurang setengah jam kemudian kita akan sampai dimuaranya yang bertemu dengan laut pantai barat Sumatra. Dahulunya teluk yang terdapat dimuara sungai ini merupakan pelabuhan tertua di jalur pesisir barat sumatera yang dikenal dengan pelabuhan Samuderapura.

Ada sebuah desa nelayan, disamping kiri muara sungai ini bernama desa Pasir Ganting, didepan dan sebelah kanan muara kita melihat delta-delta yang diapit sungai-sungai kecil diantara sungai besar lainnya yang juga bermuara kesitu. Diujungnya terjadi pertemuan dua muara sungai besar. Satu sungai yang mengalir dari Muara Sakai Inderapura, yang satu lagi dating dari arah negeri Air Haji dengan muaranya bernama Muara Bantayan.

Pertemuan dua muara ini , antara Muara sakai Indrapura dan muara Bantayan disebut penduduk setempat dengan nama Muara Gedang. Didepan Muara Gedang ini ada pulau-pulau kecil yang dinamakan Pulau Raja dan Pulau Putri. Delta-delta yang disebut pelokan Hilir dan Pelokan Mudik hanya merupakan hutan belantara yang tak berpenghuni, seperti pulau-pulau kosong. Itulah bagian arah kelaut dari negeri Inderapura denga tanah sawah yang luas namun penuh rawa ketenggelaman zaman.

Dilihat dari Minangkabau yang berpusat di Pariangan sekitar lereng Gunung Merapi, Indrapura merupakan negeri yang terletak paling selatan, dipantai pesisir barat Sumatera Barat. Sekarang Inderapura hanya sebuah kanagarian dikabupaten pesisir selatan yang dipimpin oleh seorang Wali Nagari. Penduduk yang mendiami negeri ini terdiri dari suku melayu asli yang disebut Melayu Tinggi Kampung Dalam, melayu Gedang, Sikumbang, Caniago, Tanjung dan lain-lain suku minangkabau. Tetapi juga ada keturunan dari jawa seperti Gresik, Tuban, dan Bugis yang telah lebur menjadi masyarakat Indrapura Pesisir Selatan.

Pernah merupakan kerajaan yang luas membentang keutara samapai-sampai melewati Padang, Paraiaman, Tiku, Air bangis, dan Maeulaboh, keselatan hingga Sungai Hurai, walaupun formal bagian dari Minangkabau yang berpusat di Pagarruyung, tetapi praktis berdiri sendiri, merdeka tanpa ikatan apapun.

Balahan persaudaraan dan cucuran zuriat keturunannya bertebaran kemana-mana, diantaranya menurunkan Raja-Raja Islam yang juga berpangkat Sultan pada zamannya dan ada pula yang menjadi pemimpin-pemimpin negeri sejak dahulu sampai sekarang dikawasan Nusantara ini. Inderapura sebagai sebuah kerajaan Usali Kesultanan adalah sosok pintu yang rumit menutupi latar belakang tonggak-tonggak sejarah Islam Nusantara khususnya Islam Minangkabau di Sumatera Barat. Demikian juga berkenaan dengan sejarah dan silsilah keturunan sebagian besar sultan-sultan yang berkuasa pada berbagai kerajaan-kerajaan Islam Nusantara pada zamanya. Inderapura menyimpan banyak rahasia kejayaan dan kekayaan pulau Sumatera. Terjepit antara kepentingan-kepentingan petualangan Portugis, Inggris, dan VOC Belanda yang kemudian mengkambing hitamkan Aceh.

Kesultanan Inderapura mempunyai hubungan perjalanan sejarah dengan Raja-raja Nusantara seperti; Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Bugis Makasar, Jogjakarta, Surakarta, Banten, Betawi, Siak Sri Indrapura, Sriwijaya, Dharmasraya, Pariangan, Minangkabau, Pagarruyung dan Aceh yang kemudian menyebar ke daerah yang lain dikawasan nusantara ini.