Sejarah wayang kulit - Navigasi info a -->
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sejarah wayang kulit

Navigasi Info - Wayang kulit merupakan salah satu seni pertunjukan yang berasal dari kebudayaan jawa dan sangat terkenal.



Hal ini dikarenakan pertunjukan wayang sangat sarat dengan unsur estetika dan pesan moral yang terkandung di dalam setiap pertunjukannya. Ada dua pendapat berbeda yang menjelaskan makna kata wayang, yang pertama berasal dari kata “Ma Hyang” yang berarti roh spiritual, dewa , atau Tuhan Yang Maha Esa. Sedangkan pendapat lainnya berasal dari bahasa jawa yang berarti bayangan. Hal ini dikarenakan, dalam pertunjukan wayang kita hanya melihat bayang bentuk dari wayang kulit yang dimainkan.


Sejarah lain juga mengatakan Teater wayang kulit kemungkinan berasal dari Asia Tengah-Cina atau di India pada milenium pertama SM.


Setidaknya sekitar 200 SM, figur-figur pada kain tampaknya telah digantikan dengan wayang dalam pertunjukan tholu bommalata India. Ini dilakukan di belakang layar tipis dengan boneka datar bersendi yang terbuat dari kulit transparan yang dicat warna-warni. Boneka dipegang dekat layar dan dinyalakan dari belakang, sementara tangan dan lengan dimanipulasi dengan tongkat dan kaki bagian bawah yang diayunkan bebas dari lutut.


Bukti teater wayang kulit ditemukan dalam teks Cina dan India kuno. Pusat sejarah teater bayangan yang paling signifikan adalah Cina, Asia Tenggara dan anak benua India.


Menurut Martin Banham, hanya ada sedikit penyebutan aktivitas teater pribumi di Timur Tengah antara abad ke-3 dan abad ke-13, termasuk abad-abad setelah penaklukan Islam di wilayah tersebut. Pertunjukan wayang kulit, kata Banham, mungkin mulai populer di Timur Tengah setelah invasi Mongol dan setelah itu memasukkan inovasi lokal pada abad ke-16. Sedikit penyebutan wayang kulit ditemukan dalam literatur Islam Iran, tetapi banyak ditemukan di Turki dan wilayah yang dipengaruhi Kekaisaran Ottoman abad ke-19.


Selepas dari itu semua bagi para penggemar perwayangan sudah pasti Tidak asing di telinga kita nama Sunan Kalijaga yang merupakan salah satu dari tokoh sembilan wali. Beliau bernama asli Joko Said yang lahir pada 1450 M. Wayang kulit yang ada pada saat ini adalah karya inovasi dari Sunan Kalijaga. Wayang Beber Kuno yang menggambarkan wujud manusia secara detail dibuat menjadi lebih samar. Karakter seperti Bagong, Petruk, dan Gareng adalah lakon ciptaan Sunan Kalijaga. Lakon-lakon tersebut dibuat sedemikian rupa agar dapat membawa nafas islam pada pertunjukan wayang kulit yang saat itu masih di dominasi kebudayaan Hindu Budha.


Dari zaman ini, tercipta beberapa istilah perwayangan yang sebenarnya merupakan serapan atau merujuk pada bahasa Arab seperti:


1. Dalang, berasal dari kata “Dalla” yang berarti menunjukkan. Sunan Kalijaga memilih kata tersebut dengan keinginan nantinya Dalang dapat menunjukkan kebenaran kepada para penonton wayang.

2. Tokoh Semar, berasal dari kata “Simaar” yang berarti paku. Sunan Kalijaga memilih kata tersebut dengan maksud tokoh Semar ini akan menginspirasi orang agar memiliki karakter iman yang kuat dan kokoh seperti paku.

3. Tokoh Petruk, berasal dari kata “Fat-ruuk” yang berarti tinggalkan. Sunan Kalijaga memilih kata tersebut dengan maksud tokoh Petruk ini memberitahu kita bahwa seseorang harus meninggalkan apa yang disembah selain Allah semata.

4. Tokoh Gareng, berasal dari kata “Qariin” yang berarti teman. Sunan Kalijaga memilih kata tersebut dengan maksud, seseorang muslim harus pandai mencari teman untuk diajak menuju jalan kebaikan.

5. Tokoh Bagong, yang berasal dari kata “Baghaa” yang berarti berontak. Sunan Kalijaga memilih kata tersebut dengan maksud, seseorang muslim harus memberontak ketika melihat kedzaliman di hadapannya.

Itulah beberapa hal menarik mengenai teater wayang kulit semoga bermanfaat untuk kalian dan terima kasih telah berkunjung di blog kita