Istiadat ( Manyambol Horbo ) dalam Upacara Adat Batak Angkola - Navigasi info a -->
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Istiadat ( Manyambol Horbo ) dalam Upacara Adat Batak Angkola

Navigasi Info - Istiadat "Manyambol Horbo" dalam Upacara Adat Batak Angkola Di dalam horja siriaon (suka cita, kelahiran anak, memasuki rumah baru, perkawinan) maupun horja siluluton (duka cita,kematian), apabila yang dilaksanakan adalah upacara adat besar (horja godang) maka hewan yang disembelih : wajib kerbau.

Istiadat ( Manyambol Horbo  ) dalam Upacara Adat Batak Angkola
Istiadat ( Manyambol Horbo  ) dalam Upacara Adat Batak Angkola


Horja godang merupakan kegiatan adat yang ditandai dengan kegiatan makkobar, margondang, manortor, dan menyembelih kerbau

Simbol kegiatan horja godang ditandai dengan Gaba-gaba (gapura/pintu horbangan), payung rarangan(warna kuning), pedang dan tombak, tonggol (bendera adat) dan Rompayan (tempat sembelihan kerbau), Borotan (tiang mengikat kerbau)

Rompayan


sejenis para-para yang dibuat dari bambu yang kegunaannya untuk tempat penyembelihan kerbau. Kerbau dalam bahasa adat Angkola-Mandailing disebut "anak ni manuk nabottar nalakka-lakka indalu" atau "anak ni manuk na langka-langka indalu" Kerbau disembelih di atas rompayan itu agar semua bagian-bagian kerbau yang disembelih tidak kena kotoran tanah, karena akan dibagi-bagikan ke raja-raja adat atau tamu yang diundang dengan sirih .

Dahulu kerbau yang disembelih darahnya ditampung di bawahnya dan ikut dimasak (Lubis 1997, 63). Kebiasaan ini tidak dilakukan lagi karena dilarang dalam Agama Islam, mengingat sebagian besar masyarakat Batak Angkola-Mandailing memeluk Agama Islam.

Borotan


Di samping rompayan juga ada borotan yaitu satu tiang kayu untuk mengikat kerbau yang akan disembelih.

Kini rompayan hanya menjadi sebuah simbol disembelihnya kerbau pada upacara adat yang diselenggarakan oleh tuan rumah (suhut). Penyembelihan kerbau kini dilaksanakan pada halaman atau "alaman bolak" di depan bagas godang (rumah besar/rumah raja).

Sebelum penyembelihan kerbau, anak boru/ barisan menantu membuat tali yang dibuat dari ijuk pohon enau. Peralatan penggulung ijuk kadang menggunakan kayu atau bambu, adakalanya menggunakan kayu yang diukir. Tali ijuk digunakan untuk menambatkan hewan yang disembelih (kerbau/horbo).

Kerbau disebut dengan kata kiasan yaitu "anak ni manuk na bontar na lakka-lakka indalu"yang artinya adalah :

anak ayam putih yang melangkah seperti antan diungkapkan oleh anak boru dalam makkobar maralok-alok. Demikian juga dengan kata "horbo janggut"yang artinya : kerbau berjanggut untuk menyebut kambing. Seperti cuplikan perkataan Parluhutan Hasibuan dalam

barisan anakboru sebagai berikut:


“Sambalik sian i, muda majolo atcogot di torang ni ari i dikareda mo on anak ni manuk nabottar nalakka lakka indalu, na marjalangan on jolo dipatua na margulondi di aek Sihapas”.

Artinya: “Sebaliknya kalau besok di hari yang terang disembelih anak ayam yang putih yang melangkah seperti antan (kerbau) ini, yang dulu digembalakan dilepas berkubang di aek (sungai) Sihapas”.

“Molo majolo na mangalo-alo tondi ni anak ni raja dohot bandanna, sadaon horbo janggut...”.

Artinya: “Kalau sebelumnya yang menyambut roh beserta badan dari anak raja, satu kerbau berjanggut (kambing)...”

Penyebutan kata kiasan untuk menyebut hewan yang disembelih pada pesta adat seperti yang disampaikan dalam makkobar, merupakan bagian dari hata adat.

Hata adat lazim digunakan dalam acara makkobar, atau ketika memberi nasehat dalam rangkaian adat.

Bentuknya dapat berupa kiasan dan pantun yang diungkapkan dalam percakapan atau dirangkai menjadi syair.

Kerbau disebutkan dalam makkobar karena merupakan salah satu syarat terlaksana horja godang/ pesta besar, sehingga kerbau menjadi salah satu simbol pesta besar tersebut.

Pentingnya kerbau dalam upacara adat di masa lalu menyebabkan tanduk maupun hiasan kepala kerbau digunakan sebagai ornamen rumah adat Batak Angkola, dan "bulang" (hiasan kepala pengantin perempuan) di Luat Angkola-Mandailing. Bahkan melalui bulangnya dapat diketahui jumlah hewan yang disembelih dalam upacara adat perkawinan yang diselenggarakan. Tien Santoso (2010, 40--1) menyebutkan bahwa "bulang horbo" digunakan oleh pengantin perempuan yang dalam pesta adat/ horja menyembelih kerbau, sedangkan "bulang hambeng" digunakan oleh pengantin perempuan yang dalam pesta adat menyembelih kambing.

Peralatan upacara yang lain adalah tulang kerbau berukuran panjang 24 cm, lebar 3 cm - 9 cm, tebal 4 cm serta tanduk kerbau berukuran panjang 30 cm, lebar antara 2 cm - 9 cm, dan tebal 5 cm

Pada bagian akhir upacara perkawinan adat Angkola- Mandailing ditutup dengan acara makan. Sebelumnya pengantin melihat hidangan makanannya yang terdiri dari nasi, dan lauknya berupa lambang pancaindera dan anggota tubuh kerbau seperti mata, hidung, telinga/ kulit, lidah, jantung, hati, limpa, dan tulang kaki dari kerbau yang disembelih tadi pagi yang disaksikan oleh pengantin.

Hidangan ini diletakkan pada wadah anyaman yang dilapisi daun pisang, bagian atasnya ditutup dengan abit/ ulos godang. Hewan lain seperti kambing yang juga disembelih dihidangkan kepada raja-raja, terutama bagian otak kambing sebagai bentuk penghormatan (sumber: Sutan Oloan Muda -45 th).

HORAS TONDI MADINGIN
PIR TONDI MATOGU
SAYUR MATUA BULUNG


( Sumber : "Tradisi Menyembelih Kerbau Pada Upacara Adat / Horja Godang Adat Batak Angkola-Mandailing" Nenggih Susilowati ~ Balai Arkeologi Sumatera Utara ~ Oktober 2017 )