Mengenal Leluhur Lasem serta sejarah kerajaan Pucangsulu - Navigasi info
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mengenal Leluhur Lasem serta sejarah kerajaan Pucangsulu

Navigasi Info - Kerajaan Pucangsula, sebuah kerajaan yang aktif sekitar abad ke 4-5 Masehi, Kerajaan ini pernah berjaya dan dalam kisahnya diceritakan memiliki armada laut yang berisikan prajurit-prajurit perempuan nan tangguh.

Mengenal Leluhur Lasem serta sejarah kerajaan Pucangsulu
Mengenal Leluhur Lasem serta sejarah kerajaan Pucangsulu


Terletak di lereng barat Pegunungan Lasem di Nusa Kendeng Argapura (Pulau kuno yang lepas dari Nusa Yawapegwan), Kerajaan Pucangsula diduga memiliki kota raja dari Semenanjung Utara Pegunungan Lasem atau biasa kita kenal sebagai daerah Leran, membujur ke selatan hingga ke lereng bukit Palwadhak atau yang biasa disebut dengan Gunung Bugel.

Dinamakan Pucang Sula, karena banyak terdapat banyak tanaman Pucang dan Resula. Pucang berarti kelapa atau palem dan Resula disebut juga Kersulu, Rumbia atau Siwalan.

Bumi bubakan pertama atau cikal bakal Pucangsula terletak di sebelah utara, daerah yg sekarang dikenal sebagai Bukit Ngendhen.

Salah satu peninggalan Kerajaan Pucangsula adalah reruntuhan candi Pucangan yang terletak di bukit Ngenden dukuh Sulo desa Sriombo Kecamatan Lasem Kabupaten Rembang. Reruntuhan candi ini dikelilingi oleh hutan jati.

Ada banyak batu bata merah berukuran besar yang berserak di reruntuhan candi Pucangan. Selama ini memang belum dilaksanakan ekskavasi untuk melihat seberapa besar kompleks candi peninggalan Kerajaan tua tersebut.

Kerajaan Pucangsula diperintah oleh seorang raja bergelar Dhatu, yang bernama Dhatu Hang Sam Badra, yang memiliki dua orang putri sekaligus panglima perang kerajaan, bernama Dattsu Sie Ba Ha atau yang dikenal sebagai Dewi Sibah, dan Dattsu Sie Ma Ha atau yang dikenal sebagai Ratu Sima.

Kerajaan Pucangsula dikenal memiliki armada laut yang berani serta bersenjatakan panah dan supit (tulup), yang konon sangat beracun. Racun ini didapat dari tabung bambu yang berisi air liur dari warga kerajaan Pucangsula, dan air liur ini adalah air liur pertama di pagi hari yang telah dicampur dengan umpatan serta sumpah serapah.

Tahun 387 M Datu Hang Sam Badra mendirikan perguruan filsafat Kanung (Whuning) di gunung Tapa’an, Rembang yang berasal dari para leluhur di Tanjung Putri.

Dikisahkan pada Th 1000 SM, bangsa Chow dari Hainan bermigrasi ke selatan sampai ke Kalimantan dan menjadi suku-suku Dayak yang nama sukunya berdasarkan nama sungai tempat mereka tinggal termasuk suku Sampit.

Suatu waktu penduduk Sampit Kalimantan Tengah dilanda wabah penyakit “blarutan” yang menyerang pencernaan. Mereka menyeberang ke pulau jawa dan mendirikan kampung yang dipimpin Ki Sendang dan putrinya Ni Rahki. Tempat itu sekarang disebut Lasem.

Pendatang dari sampit ini gemar mengunyah buah pinang, dan bersahabat dengan ikan pesut atau sejenis hiu (lodan) kecil. Sehingga di daerah itu ada teluk Lodan.. mereka juga mengagumi banteng betina sehingga mereka tidak mau makan banteng.

Mereka menganut kepercayaan Whuning (Kanung). Ajaran Kanung ini dibawa oleh Nabi Djo So No sekitar tahun 1000 SM. Ajaran ini bersifat Monotheis mereka percaya adanya “Sedulur Papat” yaitu Djoborolo (Djibril), Mokoholo (Mikhail), Hosoropolo (Hisropil) dan Hojorolo (Hijroil).

Pada th 230 SM Ki Sendang diwisuda jadi Datu di Tanjung Putri. Dan menetapkan kalender jawa Whuning Sebagai tahun 1. dan membuat arca Ki Sendang dari batu hitam sebesar orang dewasa.

30 tahun kemudian pemerintahannya diserahkan pada Ni Rahki dan suaminya Hang Lelesi. 75 tahun kemudian terjadi hubungan dengan Suku Jawa Sampung yang kebudayaannya lebih maju yang ahli dalam pengolahan bermacam-macam logam. Mereka bahkan ada yang saling kawin campur antara jawa Whuning dan Jawa Pegon (Yawapegwan).

Tahun 1 Masehi gunung Argapura meletus. Pada th 100 M, Tanjung putri kembali ramai dipimpin oleh Datu Hang Tsuwan di kota Bejagung (Hang Tuban).

Tahun 110 M terjadi Gempa besar. Tahun 115 Datu Hang Tsuwan mendeklarasikan Negara Jawa Dwipa, dengan bersatunya Jawa Whuning dan Jawa Sampung, setelah terjadi kawin campur antara dua suku tersebut.

Pada tahun Masehi: 390, Dhatu Hang Sam Bandra dari Pucangsula membuat pelabuhan dan galangan-kapal (=dhak-palwa) ke Sunglon Bugel atau Gunung Bugel (Bekasnya sekarang menjadi ladang dan kali disebut Palwadhak; selatan desa Tulis, Kecamatan Lasem)

Perahu-kapal itu sebagai penghubung Pemerintahan Pucangsula dengan banjar-banjar wilayahnya seurutan pesisir Jawa (Pantura), mulai banjar-Losari teluk-Tanjung (Kabupaten Brebes), ketimur hingga banjar-Rabwan (Kabupaten Batang) dan Banjar-Tugu (Kabupaten Semarang), kemudian banjar Purwata dan banjar-Tanjungmaja (Kabupaten Kudus), tepian pulau Maura sebelah timur yaitu banjar-Tayu dan banjar-Blengon (Kecamatan Kelet, Kabupaten Jepara).

Pelabuan Pucangsula bertempat di timur galangan kapal dibuatkan Gapura menghadap kebarat menghadap Laut-teluk Kendheng (Sekarang menjadi desa Gepura) dari gapura disana dibuatkan jalanan sepanjang lereng Pegunungan Argasoka hingga pusat kota Pucangsula.

Tahun 396 Putri Hang Sam Badra yaitu Sri Datsu Dewi Sibah menikah dengan pelaut dari Keling/Kalingga (Bangsa Cholamandala dari negeri Coromandel) India, yaitu Rsi Agastya Kumbayani (Haricandana) yang juga adalah penyebar agama Hindu. dan lahirlah Arya Asvendra anak mereka. Mulai saat itu terjadi percampuran orang Jawa Dwipa dan orang Keling dari India.

Di taun: 412 Masehi ada Pengelana Sramana Agama Buddha bernama: Pha Hie Yen (Fa Hian) berlayar dari Nalandha India, berniat kembali pulang ke Tsang-An (Tiongkok); tiba-tiba lagi hingga laut Jawa-Dwipa ada angin topan besar, kapalnya kemudian mangkal ke pelabuhan Pucangsula.

Sramana Hwesio Pha Hie Yen diterima mengabdi oleh Dhatu Hang Sam Badra, setiap hari diajak wawancara bab rupa-rupa pengalamanya Sang Hwesio olehnya berkelana ke manca-negara.

Dhatu Hang Sam Badra dengan adiknya Pandhita Hang Jana Bandra sepakat sangat mencocokkan intisarinya ajarannya Sang Buddha itu bercampur-luluh dengan laras Kearifan Jawa-Hwuning.

Di tahun Masehi: 415, Dhatu Hang Sambadra meletakkan jabatan, pemerintahan Pucangsula diserahkan Dewi Sibah diwisudha ditetepkan menjadi Dattsu-Agung (=Prabu-putri). Rsi Agastya menjadi Kepala banjar Rabwan (Roban) dan banjar Baturretna hingga Pegunungan Dieng, kebawah negara Pucangsula.

Sedang adiknya Dewi Sibah bernama: Dewi Sie Mah Ha (=Simah), yang menjadi Adipati-Anom Medhang Kamulan teluk Lusi (kabupaten Purwodadi-Blora) diwisudha diangkat menjadi Dattsu, dipindah ke banjae-gede Blengoh (Jepara) dijadikan Keraton keling/Kalingga.

Dewi Shima bersuamikan Kertakeyashinga sang mokteng Mahamerwacala tahun dan memiliki 2 orang anak, yaitu: Dewi Parwati dan Narayana (Iswara).

Kelak setelah Ratu Shimha wafat, Kemudian Kerajaan Kalingga dibagi dua: Kerajaan Bhumi Sambhara (Keling) dan Kerajaan Bhumi Mataram (Medang). Bagian Utara dipimpin Dewi Parwati sedangkan bagian Selatan dipimpin adiknya, yaitu Narayanaatau Prabhu Iswarakesawalingga Jagatnata Bhuwanatala.

Orang-orang yang tidak menjadi tani, oleh Rsi Agastya diperintahkan bekerja mengumpulkan belerang dari lereng kawah Dieng; belerangnya sebagai barang perdagangan banjar Baturretna untuk dibarter dengan barang-barang pertukangan dan kain sutra China, melalui plabuhan banjar Rabwan.

Negara Baturretna pun berkembang menjadi besar dan makmur, Dhatu Rsi Agastya kemudian memerintahkan tukang-tukang ahli pahat batu orang-orang dari Endrya-Satvamayu, diutus membuat Candhi banyak sekali; setiap candhi terdapat patung Shiwa Bathara Guru; letaknya candhi ke bumi punggur Gunung Dieng dan dinamakan Pasraman-agung Endrya pra-Astha.

Tahun 436. Terjadi perang antara Baturretna dan Keling memperebutkan pertambangang Belerang, dinamakan Perang saudara Endriya pra Astha, dalam perang itu Rsi Agatsya gugur, dan pihak keling menang.

Tahun Masehi: 450, Gunung Dieng meletus, tahun 470, Gunung Ungaran meletus, taun Masehi: 471, Gunung Maura (Murya) meletus. Bumi Argasoka menjadi hutan belantara.

Taun Masehi: 620, bumi disana itu sudah dihuni orang berkelana dari negara Keling Dattsu Dewi Simah, orang Pegunungan Ngargapura, dan orang Pegunungan Sukalila. ada pemuda gegedhug dari Keling yang masih Trah-darah turun ke enam dari Hang Sabura/ Dewi Simah, bernama: Hang Anggana;

Ia mengajak orang-orang Pelaut negara Keling dan Petani pokol yang berkelana tersebut untuk membuka hutan pejaten membuat desa dan plabuhan yang tepian nggenggeng menjadi desa disebut: Getas-Pejaten, plabuhane disebut: Tanjungkarang.

Di taun Masehi: 645, sebab dari setelah makmur banjar Getas-Pejaten, Dhatu Hang Anggana kemudian mengembangkan tempat itu mekar keutara serta menyediakan pusat kota memakai bernama dirinya disebut Rananggana (Rana + Anggana = Hang Anggana bandhol paprangan). Sekarang disebut kota: Kudus

Sabab dari ekspor kayu jati glondongan, kapas Randu dan minyak kelapa ekonomi bertumbuh dan banyak orang-orang kaya baru. Akibatnya Orang-orang kaya, pembesar dan kaum kelas atas di Rananggana itu mulai terpikat meniru Seni Budaya dan agama Hindu dari Chola; masuknya Kabudayaan Chola ke negara Rananggana menggeser Tata Budibudaya suci Jawa-Hwuning yang dianggep remeh dan rendah.

Karena kalah gebyar, Tokoh-pengbesar dan orang Muda-kota yang umur 18 taun kebawah merasa gagah menggunakkan budayanya orang Cholamandala/Coromandel; lebih-lebih para Wanitanyapun ikut-ikutan.” tetapi rakyat kecil di pedesaan, tidak terpengaruh Kabudayan luar negeri yang seperti tersebut.

Dhatu Hang Anggana, tidak seperti para pedagang kaya yang menganut Hindu Syiwa, Beliau juga mengikuti ikut masuk Agama-Hindu tetapi bukan Hindu Shiwa, dirinya beragama Hindhu-Kanung. Maka wujudnya Pamujan utawa Puranya tidak meniru corak Hindhu Chola atau Hindhu Dieng, dirinya membuat Pamujan Lembu-Nandhi duduk di Altar melambangkan Kekuatan Rakyatnya, serta Lingga-Yoni wujud Lumpang-Alu besar sangat, melambangkan: Hang Anggana Dhatu Agung yang berbakti pada nenek moyang serta Dhanhyang Leluhurnya.

Dan kelak ajaran Whuning (Kanung) Dhatu Hang Sam Badra tentang Endrya pra Astha diteruskan oleh Pangeran Badra Santi dari Lasem.

Sabab Eyang Mpu wis ninggali Karangan Sloka Waskita Adiluhung Pustaka Sabda Badra-santi minangka gegaran kanggo ulah kautaman tumuju ning kabegjan lan Karahayon” (Sejarah Carita Lasem).

“Eyang mpu telah mewariskan sloka ajaran yang mulia yakni Pustaka Sabda Badra Santi, ada pun tujuannya tak lain sebagai pedoman keutamaan hidup untuk meraih kebahagiaan dan penuh dengan berkah.”

Kelak pada abad ke-15, seiring surutnya imperium Majapahit, Lasem turut pudar menyesuaikan corak duniawi atau Tilakkhana (Anicca, Dukkha dan Anatta). Sebagaimana berita tradisi, Majapahit “dianggap” runtuh pada tahun 1478 M.

Bersamaan dengan runtuhnya Majapahit, Agama Siwa dan Buddha sebagai keyakinan para penduduknya, turut pudar mematuhi hukum alam, gilir gumanti. Saat itulah, seorang penerus Dewi Indu Purnama Wulan, menyaksikan detik-detik perubahan yang terjadi di Majapahit.

Adalah Pangeran Santi Badra, yang harus merelakan diri berpisah dengan putra-putrinya selama sepuluh tahun. Mematuhi pesan nasihat ayahnya sebelum wafat, agar Santi Badra pergi mengabdi ke Wilwatikta Majapahit.

Ia diutus ayahnya yang adipati Lasem, untuk menuntaskan mempelajari agama Buddha dan seni budaya Jawa di istana Majapahit. Berkat ketulusan dan pengabdian Santi Badra, sang raja saat itu, Bhre Kerthabumi, menganugrahinya gelar sebagai Tumenggung Wilwatikta. Sementara itu, kakaknya menggantikan Pangeran Wiranegara sang ayah (Pangeran Wirabradja) sebagai adipati Lasem.

Santi Badra adalah pemuka agama Buddha Majapahit. Pada saat itu Majapahit terserang wabah penyakit Gondok. Masyarakat dan keluarga majapahit tidak mendapatkan obat selain dari tokoh lasem yang bernama Mpu Santi Badra.

Dikisahkan saat terjadi kudeta terhadap pemerintahan Bhre Kerthabumi, Mpu Santi Badra menyaksikan sendiri peristiwa tersebut dan sempat ditahan pemberontak di sebuah bangunan kompleks istana Majapahit. Namun justru berkat bantuan seorang kerabat pemberontak, Mpu Santi Badra beserta para abdi kinasihnya, berhasil meloloskan diri dan pulang ke Lasem.

Tiba di Lasem, keadaan telah berubah, kakaknya yang menjabat sebagai adipati telah wafat. Sebagai putra adipati yang berhak memimpin Lasem, Santi Badra harus merelakan kenyataan yang terjadi. Lasem telah menjadi negeri Islam yang dipimpin bukan darah Adipati Lasem-Majapahit. Melainkan Nyi Ageng Maloka yang merupakan janda dari mendiang kakaknya.

Mpu Santi Badra yang merupakan siswa Bhikkhu Na Wang I dari Campa atau dikenal sebagai Dhang Hyang Asthapaka, mudah menyesuaikan perubahan yang telah terjadi. Ia mengalah dan menjadi seorang sramana Buddha (semacam pandita Buddha yang melakukan praktik brahmacari di usia tua).

Mpu Santi Badra menghabiskan sisa hidupnya hampir 18 tahun lamanya di Puntuk Punggur, Gunung Ngargapura, Lasem. Ia mengajarkan Buddhadhamma bercorak kegeniusan lokal yang dikenal sebagai Endriya Pra Astha. Khususnya kepada para pandita-pandita kanung Ngargapura Lasem. Pada masa pertapaan itulah Mpu Santi Badra meneruskan menulis Sabda Badra Santi hingga wafatnya pada tahun 1527 M.

Setelah wafat, Mpu Santi Badra dikremasi dan abunya dikubur di Punden Tapaan yang ditandai dengan panca wiyasa (lima buah batu disusun rapi). Berdasarkan cerita rakyat, di punden tapaan tersebut juga disemayamkan sesepuh Agung Ngargapura Lasem yaitu:

1. Eyang Kie Seng Dhang Dhatu Tanjungputri, meninggal di tahun 30 Jawa-Hwuning (1 Jawa-Hwuning = 230 SM). Beliau adalah Ketua rombongan yang mendarat di Tanjungputri (Timur-Laut dari Gunung Lasem) dan diangkat menjadi Dhatu di sana, membawahi daerah Pegunungan dan Pesisir Ngargapura dari Pandhangan sampai Teluk Lodhan. Pada masa ini, daerah Lasem dan sekitarnya berbentuk pulau yang disebut Nusa Kendheng dengan Gunung Ngargapura sebagai puncak tertingginya.

Eyang Kie Seng Dhang meninggal dan awu-layon (abu jenazah) beliau dikubur di dekat “Tuk” atau sumber mata air yang membentuk telaga, diberi tanda oleh masyarakatnya berupa batu yang mencuat dibawah pohon Wringin-Brahmastana. Lalu masyarakat menyebut sumber mata air di mana tempat dengan sebutan “Sendhang” untuk mengenang Sesepuh mereka itu. Kemudian dibuatlah Reliqe Kie Seng Dhang dan dirawat anak cucunya, lalu dikubur di Gunung Tapaan.

2. Eyang Hang Sam Badra Dhatu Pucangsula, wafat di tahun 425 M dan awu-layonnya dikubur di Gunung Tapaan bersama Reliq leluhurnya, Kie Seng Dhang. Dia membangun Kedhatuan Pucangsula yang terletak di lereng barat Pegunungan Lasem. Selain itu, beliau adalah pendeta Kapercayan Suci Jawa-Hwuning dan mengajarkan ajaran ini kepada siswa-siswanya di Bukit Tapaan dan wafat pun ia ditempatkan di sana.

3. Eyang Si Ba Ha Dattsu Pucangsula, meninggal di tahun 445 M dan awu-layonnya dikubur bersama sesepuhnya di Pundhen Tapaan. Beliau adalah putri Dhatu Hang Sam Badra. Putri Hang Sam Badra yang menjadi Penguasa adalah Dewi Si Ma Ha yang tinggal di Pulau Muria, masyarakat menyebutnya Ratu Simah. Sementara adik Ratu Simah/Shima tetap meneruskan memimpin negeri ayahnya, ia bernama Dhatu Si Ba Ha yang juga dikenal sebagai Dewi Sibah Dattsu Pucangsula.

4. Eyang Rangga Widyabadra, beliau adalah Mpu yang dipercaya mendirikan Kota Lasem, wafat di tahun 920 M. Nama asli beliau adalah Ki Wêlug dan mempunyai kakak bernama Ki Wêkêl. Mereka berdua adalah orang cerdas yang awalnya hidup sebagai petani. Kedua orang ini adalah orang Kanung (Sengkaning Gunung) yang membawa warga bukit Criwik dan Sindawaya untuk turun ke dataran rendah di barat Peg.Lasem.

Rombongan dipimpin oleh Ki Wêkêl. Ia menjadi Tani-pokol di sebelah barat Sungai Lasem. Sementara Ki Wêlug menjadi Tani-ngothèk dan bertempat di timur Sungai Lasem.

Ki Wêlug yang cerdas ini mendapat gelar Mpu Widyabadra dan menjadi seorang Rangga (Pemimpin Karya). Ia membuat desa yang bernama Karanggan, setelah desanya ramai, ia membangun Kota Lasem dengan candrasengkala Akarya kombuling manggala (804 Çaka = 882 M). Setelah wafat di tahun 920 M, awu-layonnya di kuburkan bersama leluhurnya di Bukit Tapaan.

5. Eyang Mpu SantibadraTumenggung ing Wilwatikta, beliau wafat pada bulan Badrapada di tahun 1449 Çaka. Beliau adalah seorang Pendeta Buddha dan merupakan orang penting di Negara Majapahit. Saat Majapahit terjadi pemberontakan di tahun 1400 Çaka, beliau melarikan diri dan pulang ke Lasem.

Beliau menjadi guru dengan mengajarkan Ilmu Endriya Pra Astha kepada para pendeta Kanung dan membuat kitab Pustaka Sabda Badra-Santi. Pada tahun 1527 M, beliau wafat dan awu-layonnya dikubur bersama leluhurnya.

Adapun ajaran Endriya Pra Astha adalah sebagai berikut:

1. Tunemen nyambut gawe ngudi rejeki kanggo murakabi Brayate, lan ora srei drengki kemeren ning liyan.

(bersungguh-sungguh dalam bekerja mencari rejeki untuk kesejahteraan keluarga serta tidak boleh iri dengki terhadap orang lain).

2. Nyembah mundhi-bekti ning wong tuwane-sakloron; sambat nyebut: Adhuh Sembooooook, Gusti kula! (=Sembok kuwi wong sing bagus atine sa-ndonya), Adhuh Semaaaaaak, Pangeran kula! (=Semak/Bapak kuwi pangengerane wong sagotrah anak-bojone).

(Berbakti kepada kedua orang tua).

3. Ngleluri mundhi Pundhen Nyai-Dhanhyang Kaki-Dhanhyang sing cakalbakal desane. Sarta emoh nganggu Manuk-manuk sing padha manggon ning bregat Pundhen, utawa ning bregat-bregat liyane kana-kana.

(Menghormati punden para leluhur yang menjadi cikal bakal desa serta tidak boleh mengganggu burung-burung yang tinggal di pohon besar sekitar punden atau pohon-pohon besar yang dianggap sakral di tempat lain).

4. Sayuk rukun karo tangga-teparo lan sadulure, bebarengan gotong-royong ing wulan Purnama Badrapada; bresih desa, ratan, sendhang, karas pekarangan; sarta memetri nguri Bregat.

(Hidup rukun dengan tetangga kanan kiri dan saudara, bersama-sama gotong-royong pada saat Bulan Purnama Badrapada untuk melakukan upacara bersih desa, membersihkan jalan besar, telaga/sendang, pekarangan, serta merawat pohon-pohon besar agar tetap asri lestari).

5. Mangastuti rembugan nggathukake pinemu, kanggo pituduh mbangun majune Desane, lan njaga kaamanane.

(Mendahulukan musyawarah mufakat untuk menyelesaikan masalah, sebagai petunjuk untuk membangun kemajuan desa dan menjaga keamanan/ketenteraman desa).

6. Nguri-uri ngluhurake Budipakarti Seni-Budaya Jawa.

(Melestarikan dan meluhurkan budi pekerti seni budaya Jawa)

7. .Mikani ning Bumi dununge kabeh Titah kasinungan Sang Urip kang Maha Esa, mikani ning Langit dununge/ manunggale Urip Agung Sang Nyawa kang Maha Das. Wong mati ragane dadi Mayit lebur ing Bumi, Jiwane dadi Yitma nunggal ning Langit.

(Menyembah kepada Yang Maha Esa dan ingat bahwa orang yang mati raganya akan melebur menjadi satu dengan bumi dan jiwanya akan manunggal di langit).

8. Setya pranatane Negara lan Sabda wasitane Sesepuh Agung Manggala Praja.

(Setia terhadap peraturan negara dan sabda para Sesepuh Agung Manggala Praja).

Refrensi yang saya gunakan: 

1. Kitab Pustaka Sabda Badra-Santi, karangan Mpu Guru Pr.Santibadra. 
2. Kitab Carita (Sêjarah) Lasêm, karangan Mpu R.Panji Kamzah dan dilengkapi oleh Mpu R.Panji Karsono. 
3. Kitab Sêjarah Kawitané Wong Jawa lan Wong Kanung, karangan Mbah Guru. 
4. Cerita tutur masyarakat Lasem.
close