Literasi Suku Ogan - Navigasi info
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Literasi Suku Ogan

Navigasi Info - Suku Ogan atau Melayu Ogan (Bahasa Ogan : Hang Ugan, Jeme Ugan / Surat Ulu (Aksara Ogan) : ꤺꤸ ꥆꥈ ꤱꥐ) adalah salah satu suku bangsa yang mayoritas bermukim di Provinsi Sumatra Selatan dan Provinsi Lampung. Masyarakat suku Ogan tersebar di Kabupaten Ogan Komering Ulu (Baturaja, Ulu Ogan, Semidang Aji, Lubuk Batang, Peninjauan, Pengandonan), Kabupaten Ogan Komering Ilir (Muara Baru, Anyar dan Banding Anyar), Kabupaten Ogan Ilir (Kecamatan Muara Kuang) di sepanjang aliran Sungai Ogan (Ayakh Ugan) dan juga terdapat kantong populasi kecil di Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur (Tugu Harum Belitang, Mendah dan Martapura). Selain di Sumatra Selatan, Suku Ogan dapat dijumpai dalam jumlah yang sangat besar di Lampung meliputi Kabupaten Way Kanan (Way Tuba, Banjit dan Kasui), Lampung Utara (Kotabumi, Bukit Kemuning dan Ogan Lima), Pesawaran (Tegineneng), Lampung Barat (Sukau), Lampung Selatan, Kota Metro dan Lampung Timur. Jumlah populasi suku Ogan pada sensus terakhir (tahun 2010) diperkirakan sebanyak 720.000 orang.

Rumah Adat


Secara tradisional, rumah adat Suku Ogan berbentuk rumah panggung. Suku Ogan sendiri menyebut rumah adat mereka dengan sebutan Khumah Ulu atau Khumah Bakhi. Secara bentuk, rumah khas Suku Ogan ini adalah transformasi antara Rumah Limas di hiliran Palembang dan Rumah Baghi khas Besemah.

Rumah ulu khas Ogan


Rumah Ulu Ogan sendiri berbentuk persegi dengan sudut curam dengan tiang-tiang (sake) yang tidak ditanam melainkan diberikan sejenis ganjalan yang disebut dengan umpak-umpakan atau perigian. Ukuran tiang tersebut berupa kayu gelondongan yang berdiameter 50 cm - 90 cm.

Rumah Ulu Ogan memiliki atap teritisan yang jauh lebih tinggi dari rumah khas kebanyakan etnis-etnis lainnya di Sumatera Selatan dengan kemiringan 55 - 60 derajat. Ukuran luas dari Rumah Ulu Ogan bermacam-macam mulai dari 25 M² sampai dengan 49 M². Rumah ini terbagi atas beberapa ruangan, yaitu Kakudan atau kamar untuk istirahat, Ambin yaitu semacam ruang keluarga atau tempat orang tua untuk memberikan edukasi untuk anak-anak, Paun atau Dapukh yaitu tempat untuk memasak, Jugan atau Luan yang merupakan ruang depan untuk menjamu tamu, Tundan atau semacam tempat untuk mencuci pakaian dan peralatan dapur serta untuk buang air kecil dan Lintut atau Lung-galungan yaitu semacam teras untuk bersantai. Bagian kolong di bawah rumah ini bertujuan untuk meletakkan hewan-hewan ternak atau tempat bekerja bagi sang pemilik rumah.

Pembangunan dari Rumah Ulu Ogan mengikuti prinsip Ulu-Ulak (Hulu-Hilir) dengan mengutamakan orientasi pembangunan ke hilir dan lebih dekat ke sungai. Sebelum dilakukan pemasangan atap, terlebih dahulu ketua adat berkumpul mengadakan sebuah tradisi bernama Naekkan Bumbungan atau Munggahi Bumbungan sebagai syarat pelengkap agar rumah tersebut dapat nyaman untuk ditinggali.

Semenjak dikenal Rumah Panggung model Gudang dan model modern lainnya, Rumah Ulu Ogan ini sudah mulai berkurang jumlahnya di daerah Ogan sendiri (Ogan Komering Ulu), hanya beberapa desa yang masih mempertahankan keaslian dari arsitektur khas Suku Ogan ini seperti Desa Batukuning, Mendala, Pengandonan, Singapura dan Kepayang. Salah satu contoh model asli dari Rumah Ulu Ogan ini dapat dilihat di Museum Balaputeradewa di Kota Palembang.

Tumpakan Uhang

Tumpakan Uhang (Bahasa Ogan : "Pangkuan Orang") adalah aturan adat (penggawe) penting dalam masyarakat Ogan di mana anak tertua dari orang tua atau penjedi memiliki kewajiban untuk menjaga dan memelihara harta, marwah dan zuriyat keluarga besar. Sistem adat ini mirip dengan Tunggu Tubang pada Suku Semende dan Jurai Anak Lanang pada Suku Besemah. Perbedaan Tumpakan Uhang dalam adat Ogan adalah anak yang mengemban Tumpakan Uhang boleh dari anak laki-laki atau perempuan yang diputuskan dalam musyawarah secara demokratis. Berbeda sekali dengan Tunggu Tubang Semende yang diwajibkan pada anak perempuan tertua (matrilineal) dan Jurai Anak Lanang Besemah yang diwajibkan pada anak laki-laki tertua (patrilineal).

Anak tertua yang diemban untuk menjalankan Tumpakan Uhang memiliki tugas dan kewajiban antara lain menjaga harta benda dan pusaka keluarga, merawat orang tua dan menjadi tempat bernaung orang tua ketika renta, merawat dan memelihara makam (perantuan) para leluhur, menetap di dusun dan tidak boleh pindah rumah, menjaga kehormatan keluarga, memelihara dan meneruskan zuriyat keturunan dan taat serta patuh pada adat istiadat Suku Ogan.

Rumah tradisional bukan semata warisan budaya dalam bentuk material yang tersusun berupa elemen-elemen bangunan saja. Lebih dari wujud fisiknya, rumah tradisional mempunyai peran penting dalam membentuk ruang-ruang sosial dan simbolik, sekaligus sebagai representasi budaya bagi penghuninya. Indonesia sebagai negara kesatuan yang kaya akan kebudayaan mempunyai begitu banyak warisan rumah tradisional, salah satunya adalah rumah ulu di Sumatera Selatan.



Rumah Ulu merupakan rumah tradisional masyarakat yang bermukim di kawasan hulu Sungai Musi, Sumatera Selatan. Nama rumah ulu berasal dari kata uluan yang bermakna pedesaan, uluan juga sebutan bagi masyarakat yang tinggal di bagian hulu Sungai Musi. Semua bagian rumah ulu terbuat dari kayu, dengan bagian bawah ditopang oleh batang pohon unglen. Pemilihan batang pohon unglen bukan tanpa sebab, batang pohon ini diyakini bisa bertahan hingga ratusan tahun.

Pembangunan rumah ulu harus mengikuti beberapa peraturan yang sudah disepakati, peraturan tersebut antara lain seperti, pembangunannya harus menghadap ke depan garis aliran air. Hal ini dimaksudkan supaya rumah yang dibangun bisa terbebas dari banjir bandang yang sewaktu-waktu bisa datang. Selain itu, pembangunan rumah ulu juga harus mengikuti sistem ulu-ulak (ilir), yaitu jika lahan yang akan dibangun rumah masih luas dan berencana ingin membangun rumah ulu berikutnya, maka pembangunan rumah harus dilakukan dari bagian yang paling hulu.

Sistem ulu-ulak (ilir) bukan sekadar pengaturan pembangunan rumah, tetapi juga menjadi pengaturan ruang secara sosial. Rumah di bagian ulu diperuntukkan bagi mereka yang mempunyai usia lebih tua dalam garis keluarga, begitu seterusnya hingga ke rumah paling hilir yang ditempati oleh keturunan yang paling muda. Sistem ini juga berlaku di dalam pembagian ruang di dalam rumah.

Secara umum, rumah ulu dibagi menjadi tiga bagian yaitu, ruang depan, ruang tengah, dan ruang belakang. Ketiga bagian tersebut terbagi menjadi beberapa bagian, seperti garang atau lintut, haluan dan kakudan, ruang gedongan atau ambin, dan ruangan dapur. Garang atau lintut merupakan ruangan yang difungsikan sebagai tempat untuk bercengkrama para pemilik rumah, yang biasa dilakukan setiap sore hari setelah melakukan rutinitas kerja.

Sementara haluan dan kakudan merupakan ruangan khusus yang digunakan sebagai tempat istirahat. Haluan diperuntukkan bagi laki-laki, sedangkan kakudan diperuntukkan bagi para perempuan. Di bagian lain terdapat gedongan atau ambin, ruangan ini terdapat di bagian tengah rumah ulu yang lantainya lebih tinggi di antara bagian yang lain. Tempat ini difungsikan oleh orang yang dianggap paling tua di dalam rumah untuk memberikan wejangan kepada para anak dan cucu, nasihat tersebut juga bisa dalam bentuk dongengan sebelum tidur.

Seiring perkembangan zaman, rumah ulu makin jarang ditemukan. Meski demikian, salah satu bentuk rumah tradisional ini masih bisa ditemukan di halaman belakang Museum Balaputera Dewa, dan menjadi salah satu koleksi terbesar museum. Menurut catatan museum, rumah ulu tersebut berusia 200 tahun dan diambil dari Desa Asemkelat, Kecamatan Pangandonan, Kabupaten Ogan Komering Ilir.

Menjaga dan melestarikan rumah ulu bukan berarti setiap masyarakat saat ini harus membangun rumah ulu sebagai tempat tinggal, melainkan lebih kepada melestarikan nilai-nilai filosofis yang terkandung dalam rumah tradisional tersebut. Mengingat dalam rumah ulu terdapat nilai-nilai adiluhung seperti menghormati orang yang lebih tua, menyayangi orang yang lebih muda, dan membangun keluarga yang harmonis. 

Tari Sebimbing Sekundang



Seni tari ada disetiap daerah di Sumatera Selatan. Biasanya yang paling menonjol adalah tari sambut bagi tamu yang di agungkan dengan cara memberikan sekapur sirih. 

Seperti daerah lainnya,Ogan Komering Ulu (OKU) juga memiliki kesenian yang menjadi ciri khas tersendiri. Dengan diberi nama Sebimbing Sekundang, tarian ini memiliki makna dan pesan yang mendalam,baik bagi masyarakat setempat, penari, maupun tamu dan undangan yang melihat suguhan tarian ini.

Sesuai namanya, Tari Sembimbing Sekundang memiliki makna berjalan bersama atau seiring dan saling membantu. Pesan-pesan itulah yang terus disampaikan dan dilestarikan melalui gerakan tarian. Tarian ini selalu disuguhkan dalam penyambutan tamutamu kehormatan yang berkunjung di daerah ini.

Tari Sebimbing Sekundang diciptakan Z Khusni Karana yang juga koreografer profesional Sumsel. Tarian ini diperagakan baik di dalam gedung maupun tempat terbuka.

“Banyak makna yang terkandung, salah satunya toleransi dan kebersamaan,” ungkapnya. Tepak atau pengasan merupakan sarana utama tarian ini yang berisikan beberapa lembar daun sirih segar dan beberapa lipat daun sirih yang telah diracik dengan getah gambir, sehingga siap disuguhkan kepada tamu kehormatan sebagai tanda penerimaan dan pengakuan masyarakat Kabupaten Ogan Komering Ulu.

Gerak tarian, pakaian, dan musik pengiringnya merupakan perpaduan dari gerak, pakaian, dan musik tari-tari tradisional dari berbagai kecamatan dalam Kabupaten Ogan Komering Ulu sehingga tergambar moto “Bumi Sebimbing Sekundang”yang berarti berjalan seiring dan saling membantu dan melaksanakan sesuatu untuk menggapai keberhasilan.

Lirik Lagu Suku Ogan - Sayang Selayak 


Sayang selayak burung lempipi,
sayang selayak burung lempipi
Menarap abang keputehan ai keputehan
Kakang berayak ke duson ini

Kakang berayak ke duson ini
Tuape batan perulehan, ai perulehan
Sayang selayak burung lempipi,
sayang selayak burung lempipi
Sayang selayak burung lempipi,
sayang selayak burung lempipi

Menarap abang keputehan ai keputehan
Kami berayak keduson ini
Kami berayak keduson ini
Ade mbak gunong perulehan, ai perulehan
Sayang selayak burung lempipi,
sayang selayak burung lempipi



close