Siapakah RAJA UTI ? - Navigasi info
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Siapakah RAJA UTI ?

Navigasi Info - Mari kita cerita sejarah nyata saja, bukan cerita mitos, bukan cerita dongeng ala turi-turian batak karangan WM. Hutagalung si demang Belanda itu.

Siapakah RAJA UTI ?
Siapakah RAJA UTI ?


RAJA UTI, sebenarnya adalah sosok historis, nyata adanya. Tapi Raja Uti bukanlah nama aslinya. Itu hanyalah nama julukan keagamaan yang diberikan oleh penganut agama Parmalim. Dia adalah sosok nyata dan historis dari seorang Raja dari keturunan Raja besar. Dia datang ke negeri Fansur, mendirikan kerajaannya disana yang dia beri nama 'Kerajaan Hatorusan'. Nama negeri Fansur kemudian dia ganti menjadi 'Negeri BARUS', yakni nama negeri kampung halamannya yang disebut 'Batang Barus' di daerah Tarusan. Saat ini nama Batang Barus telah bertukar nama menjadi Batang Tarusan.

Dialah yang dulu di Silindung telah membentuk institusi Raja Maropat di negeri batak.

Raja Maropat adalah institusi empat penghulu yang mengatur pembagian kekuasaan negeri Batak dalam 4 (empat) wilayah dan berfungsi sebagai wakilnya, yaitu :

1. Raja Maropat Silindung
2. Raja Maropat Samosir
3. Raja Maropat Humbang
4. Raja Maropat Toba



👉Tapi di Negeri Barus dan di Negeri Toba, dia juga dikenali dengan sebutan 'RAJA UTI', dan walau dia seorang muslim tapi dia juga seorang raja sakti mandraguna, yang amat dihormati oleh rakyat negeri Toba, Humbang, Silindung, Samosir, dan sekitarnya. Dialah yang dianggap sosok keramat, dan menjadi simbol spritual dari agama PARMALIM, yang juga menjadi agama raja-raja Kerajaan Bakkara di negeri Toba.

RAJA UTI, semasa hidupnya adalah manusia normal yang punya tubuh lengkap 100%, keturunan raja besar, sakti mandraguna, pewaris ilmu batin kuno turunan para bangsawan di negeri asalnya.. Dia bukanlah seperti sosok makhluk aneh yang diceritakan dalam turi-turian batak karangan WM Hutagalung si demang Belanda itu. Yang pasti Raja Uti itu bukanlah orang batak, dan sama sekali tidak memiliki darah keturunan batak. Dan yang pasti...

Raja Uti itu bukanlah keturunan Siraja Batak Pusuk Buhit dan telor manuk hulambujati sebagaimana yang diyakini oleh orang batak Toba mengikut cerita dongeng turi-turian karangan WM Hutagalung si demang Belanda.

Raja Uti itu bukanlah sosok makluk aneh yang hanya ada kepala tanpa badan. Dia bukan pula makhluk aneh yang bisa terbang.

Dia bukanlah manusia cacat saat lahirnya, yang katanya wujudnya tidak sempurna, hanya punya kepala tapi tidak mempunyai kaki dan tangan.

Tidak begitu..!! Kepalanya hanya putus setelah kematiannya. Dia bukanlah makhluk aneh yang katanya bisa berubah menjadi 7 wujud penjelmaan. Dia bukan manusia yang kebal dari senjata. Dia bukan manusia yang tidak bisa mati. Dia hanya insan manusia biasa yang 100% normal dan bertubuh lengkap, tapi karena ilmu batin kuno turunan yang dimilikinya, maka dia tidak bisa dibunuh begitu saja walaupun tubuhnya ditusuk dan ditembus dengan seribu pedang.

Di negeri asalnya, Ilmu batin kuno pra Islam itu nyata adanya. Tidak perlu disebutkan pula apa nama ilmu batin kuno itu. Yang jelas, ilmu batin kuno peninggalan pra Islam itu nyata jejaknya. Bukan hanya sekedar mitos.

Tapi yang namanya ilmu dunia itu walau sehebat apapun tetap ada kelemahannya. Saat musuh-musuhnya berhasil mengetahui rahasia kelemahan ilmunya, maka saat itulah ajalnya sampai.

Dia hanya bisa dibunuh jika kepalanya dipenggal hingga putus. Dan kepalanya yang putus harus diambil dan dipisahkan dari badannya karena saat itu dia tetap saja belum sepenuhnya mati, walau kepalanya telah terpisah dari tubuh. Dia hanya bisa mati setelah kepalanya tadi diupacarai dengan ritual khusus pemutus roh.

Dan yang namanya manusia itu walau sesakti apapun tetap ada saat-saat naasnya. Kesalahannya adalah di saat usianya telah begitu renta, tapi dia tetap saja turun langsung ke medan perang bersama para prajuritnya.

Disaat itulah dia dibunuh setelah musuh-musuhnya yang terdiri dari ratusan prajurit dan jendral perang kerajaan Aceh berhasil menjebak dan mengepungnya di medan perang. Saat itulah dengan susah payah akhirnya panglima perang kerajaan Aceh berhasil juga memenggal kepalanya hingga putus.

Karena dia seorang raja, maka jasad tubuhnya yang tanpa kepala diselamatkan, diperlakukan dengan baik dan hormat, dan dikembalikan ke keluarganya.

Namun kepalanya tetap dibawa ke istana Kerajaan Aceh, lalu diupacarai dengan ritual pemutus roh selama 7 hari 7 malam. Barulah kemudian kepalanya dibawa kembali ke Barus dengan upacara kebesaran, sesuai dengan derajatnya sebagai seorang raja.

Kepalanya dikembalikan dan disatukan ke jasad tubuhnya yang telah lebih dahulu dikuburkan. Tapi diberi sekat lempengan batu di antara kepala dan tubuhnya agar tidak saling menempel.

Itulah yang sebenarnya Raja Uti di akhir hidupnya. Sepotong kepala yang sudah terpisah dan tetap terpisah dari tubuhnya. Sepotong kepala yang ditangisi dan dipuja oleh para penganut Parmalim dan raja-raja Bakkara.

Tapi dia jelas bukanlah manusia cacad tanpa badan semenjak lahirnya. Kepalanya hanya putus setelah kematiannya.

Itulah sejatinya sosok nyata yang disebut 'RAJA UTI'.... Bukan yang seperti cerita dongeng turi-turian batak karangan WM. Hutagalung si demang Belanda itu. Dan walaupun sosok histotis itu sejatinya adalah seorang muslim tapi dia juga seorang raja sakti mandraguna yang amat dihormati, yang dianggap mistis, dan menjadi simbol spritual dari agama Parmalim, yang menjadi agama raja-raja Kerajaan Bakkara di negeri Toba.

Yang pemujaan kepadanya juga diabadikan oleh penganut Parmalim dalam bentuk kalimat-kalimat mantra pemujaan pada ritual keagamaan, antara lain seperti kalimat mantra berikut :

"(sensor), (sensor) na so olo mate, Na so olo matua, Tuan Bumi na Bolon, Raja Tonggam di langit, Mulajadi na Bolon na hundul di banua holing, Na mangunsande di batu barani, Na dumompakhon bilang na uli, Na tumundalhon bilang na so magabe." ......

close